News

Sebagai bagian dari kunjungan lapangan Dewan Umum Gereja-Gereja Reformed Sedunia, sebuah delegasi mengunjungi Desa Huaiy Nam Khun dan Thoo Mweh Khee Learning Centre (TMKLC) di Provinsi Tak, Thailand, dekat perbatasan dengan Myanmar. Kunjungan ini memberikan gambaran mendalam tentang kehidupan komunitas yang menghadapi pengungsian, pendidikan, dan keyakinan.

Huaiy Nam Khun merupakan tempat tinggal bagi suku Karen, yang meliputi warga negara Thailand, migran terdaftar dari kamp pengungsi, dan mereka yang melarikan diri dari Myanmar mencari keamanan dari konflik dan ketidakstabilan. Gereja lokal berperan sebagai poros harapan dan kesempatan, menawarkan pengembangan kepemimpinan melalui institut Alkitab yang mendidik lebih dari 125 siswa, mempromosikan pendidikan dasar melalui program GED, dan memberikan bantuan kemanusiaan untuk meningkatkan kehidupan sehari-hari.

Di Pusat Pembelajaran Thoo Mweh Khee (TMKLC), yang didirikan pada tahun 2002, delegasi menyaksikan lembaga pendidikan yang berfokus pada anak-anak dan pemuda yang terpinggirkan dari sistem pendidikan formal Thailand. TMKLC mengintegrasikan kurikulum internasional, Karen, Myanmar, dan Thailand, melayani lebih dari 3.000 siswa dari taman kanak-kanak hingga tingkat sarjana. Seorang pengajar menekankan misi sekolah: “untuk membekali siswa dengan keterampilan dan pengetahuan untuk kembali dan membangun komunitas asal mereka,” sambil mencatat bahwa banyak lulusan kembali sebagai guru. Seorang delegasi merefleksikan, “Ini adalah pengalaman yang mengharukan mendengar bahwa sebagian besar siswa ingin kembali ke Myanmar untuk membantu komunitas mereka.”

Berdekatan dengan Pusat Pembelajaran terdapat Seminari Teologi Kaw Thooler Hope, yang menyediakan gelar sarjana dan pascasarjana teologi bagi sekitar 130 siswa, baik secara langsung maupun daring. Dosen-dosen berbagi tentang pertumbuhan berkelanjutan seminari dan rencana mereka untuk mendapatkan akreditasi program Doktor Teologi.

Kunjungan lapangan ini menerangi realitas saling terkait antara pengungsian, pendidikan, dan pelayanan di pinggiran. Delegasi mengamati bagaimana gereja-gereja lokal mewujudkan kasih sayang dan keadilan melalui pendidikan dan pelayanan.

Pdt. Jessica Hastings, Pembimbing Rohani Institut Teologi Global, menggambarkan kunjungan ini sebagai transformatif:

“Tkunjungan lapangan ke Pusat Pembelajaran Thoo Mweh Khee dan Seminari Teologi Kawthoolei Hope untuk pengungsi Karen di perbatasan Myanmar merupakan pengalaman puncak selama saya di Dewan Umum. Kunjungan ini memperbarui komitmen saya terhadap keadilan dan kesatuan bagi komunitas manusia dan Bumi yang lebih dari sekadar manusia. Saya akan kembali ke Kanada dengan perubahan.”

Dr. Henry Kuo, Dekan GIT 2025, mengulang perasaan ini, menyoroti rasa belajar bersama yang dirasakan oleh delegasi. Sekretaris Jenderal WCRC yang akan datang, Philip Peacock, berbicara kepada komunitas TMKLC, menegaskan bahwa WCRC datang “pertama, untuk memberi tahu [komunitas] bahwa Anda tidak sendirian dan kami bersama Anda, dan kedua, untuk belajar dari Anda.”

Para pengamat terkesan bukan oleh perjuangan yang dihadapi komunitas Karen, melainkan oleh harapan yang hidup dan ketahanan yang membentuk kehidupan sehari-hari dan pendidikan mereka. Para delegasi mencatat penolakan siswa untuk hanya fokus pada kesulitan, melainkan menjadikan harapan sebagai nilai utama. Salah satu momen yang mengharukan melibatkan percakapan dengan Beauty, seorang pustakawan seminari dan mahasiswa GIT 2025, tentang bukit-bukit hijau Myanmar yang tampak di dekatnya—daerah yang masih terdampak bom yang menggoyang tanah bahkan selama kelas. Namun, para siswa tetap bersemangat, unggul dalam filsafat dan teologi, dan berinteraksi dengan pemikir dari Aristoteles hingga Gutiérrez.

Kunjungan tersebut meninggalkan kesan yang mendalam: sebuah komunitas yang tidak didefinisikan oleh tantangannya, melainkan oleh keteguhan, kecerdasan, dan harapan yang tak tergoyahkan.
Terjemahan didukung oleh DeepL